Ternyata
Aku menghela napas.
Teman-teman kuliahku, tanpa kecuali, semua membicarakan hal yang sama. Twitter.
Ya, situs sosial berlogo burung biru itu. Mereka tak henti-hentinya
membicarakan situs itu setiap hari. Aku heran mengapa mereka tidak merasa
bosan. Setahuku, Twitter hanya situs jejaring sosial yang memungkinkan kita
untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dengan mudah. Lalu
apa? Yah, aku memang tidak punya akun
di Twitter, sehingga aku tidak mengerti. Untuk mencari tahu, aku memutuskan
untuk ikut mengobrol dengan beberapa temanku yang asyik bergerombol di meja
sebelah.
“Hei, memangnya Twitter
seseru itu ya?” tanyaku pada mereka.
Mereka kemudian
menolehkan wajah kepadaku dengan wajah seakan baru saja melihat alien.
Aku memutar bola
mataku, “Ayolah. Aku kan tidak mengerti karena aku tidak punya Twitter.”
Salah satu temanku
menghela napas, “Begini, ya. Twitter itu
seperti microblogging atau blog mini untuk kita. Kita bisa terus-terusan
meng-update status sekaligus mendapat
informasi. Di Twitter, kita bisa tahu topik apa yang sedang marak dibicarakan
dan selalu up to date karena
komunikasi lewat Twitter sangat cepat menyebar. Kita juga bisa bertemu
teman-teman lama maupun baru. Di Twitter kita bisa juga mendapat info penting
seperi info lalu lintas, apa yang sedang terjadi di negara ini, berita terbaru,
dan banyak lagi. Oh, kita juga bisa kenalan dan jadi dekat dengan public figure seperti artis. Kalau kita
meng-follow seseorang, kita juga bisa
tau kegiatan sehari-harinya sehingga kita bisa mengenalnya lebih dekat. Seru,
kan?”
Teman-temanku yang lain
mengangguk mengiyakan. Aku ikut mengangguk. Ternyata begitu. Sekarang aku baru
mengerti kenapa mereka sepertinya sangat menyukai Twitter. Seperti situs sosial
lainnya, tentunya Twitter membawa dampak positif dalam bersosialisasi dan
sepertinya memang situs yang menarik. Mungkin aku bisa mencoba untuk membuat akun di Twitter.
Ketika sampai di rumah,
aku menyalakan komputerku untuk kemudian membuka Twitter. Setelah membuat akun dengan mengisi beberapa informasi, aku pun
resmi mempunyai akun Twitter. Lalu aku mulai melihat-lihat kesana kemari.
Banyak sekali tweets yang ditulis di
sini. Ada yang statusnya mengatakan bahwa ia sedang berada di Ancol, ada yang
menulis status bahwa mereka sedang kesal, ada yang menggosip. Wow. Seru sekali
sepertinya.
Karena merasa tertarik,
aku mulai membaur dengan mereka. Dalam waktu singkat, aku merasa benar-benar
mengerti apa yang dimaksud oleh teman-temanku. Ternyata seru sekali! Aku
langsung mempunyai banyak teman, banyak gosip, dan aku merasa senang sekali
bisa berbincang dengan banyak orang seperti ini. Seperti yang terjadi pada
teman-temanku, aku menjadi pengguna setia Twitter.
Lewat Twitter ini, aku
bertemu dengan seorang sahabat. Gadis itu sering curhat padaku. Menceritakan
kisah-kisahnya yang menarik. Ketika dia bercerita, aku menanggapi. Begitu pun
sebaliknya. Kami menjadi teman yang akrab dalam dunia maya ini walau kami hanya
saling mengenal lewat tulisan.
Suatu hari ia
mengajakku untuk bertemu secara langsung. Aku ragu karena kami berdua masih
sama-sama asing karena kami hanya ngobrol lewat tulisan. Tapi kata-kata
manisnya yang mengatakan bahwa dia sangat ingin bertemu denganku yang merupakan
sahabatnya, membuatku memutuskan untuk bertemu dengannya di sebuah café yang strategis dari rumah kami.
Pada hari yang sudah
dijanjikan, aku menunggu di café yang
ditentukan olehnya. Aku sengaja datang 1 jam lebih cepat karena merasa tidak
enak kalau terlambat di hari pertama aku bertemu dengan teman asing. Lalu aku
melihatnya memasuki pintu dan tersenyum ketika melihatku. Setidaknya kami sudah
mengenali wajah masing-masing lewat profile
picture Twitter. Awalnya aku
sempat kaget karena sepertinya aku mengenal wajahnya, tapi kutepis pikiran itu
ketika ia duduk di depanku dan kami mulai berbincang sambil minum kopi.
Tak terasa hari sudah
malam. Kami berdua memutuskan untuk pulang. Sebagai pemuda yang baik, aku
menawarkan untuk mengantarnya pulang. Tidak baik bagi seorang gadis untuk
pulang sendirian di malam hari. Aku pun mengantarnya.
Di tengah perjalanan,
ia tiba-tiba memintaku meminggirkan mobil di jalan yang sepi. Saat aku hendak
bertanya, ia menyentuh pundakku dan pikiranku terasa kosong. Dia kemudian
menyuruhku untuk menyerahkan dompetku dan beberapa benda berharga milikku
seperti jam tangan, handphone, dan notebook. Dengan patuh aku melakukan apa
yang disuruhnya. Setelah ia mengambil semua yang ia mau, ia menyuruhku keluar
dari mobil. Kemudian ia menjentikkan jarinya dan aku baru tersadar. Tapi
terlambat. Ia sudah membawa kabur semua yang dia minta tadi beserta mobilku.
Aku terdiam di tempatku
berdiri. Dengan bodohnya aku baru menyadari bahwa gadis itu ternyata memang
buronan polisi karena lihai merampok dengan menghipnotis. Pantas aku sering
melihat wajahnya yang memang terpampang di selebaran-selebaran orang-orang
berbahaya. Aku kalut. Apa yang harus kulakukan di jalan yang bahkan tak ada
seorang pun yang lewat? Aku menarik napas dan berusaha berpikir tenang.
Tidak ada gunanya
menyesal. Lebih baik aku pergi ke jalan besar dan mencari taksi untuk pulang.
Aku mencamkan baik-baik pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh dengan mudah
terbujuk untuk bertemu orang asing dari situs sosial.
No comments:
Post a Comment