PLANKTONS

bunch of PLANKTONIA living in PLANKTOWN @ PLANKTON XI Bahasa or you can just call us the EXECUTIVE CLASS
a member of SANURIAN's big family

Tuesday, October 4, 2011

Makalah B. Indonesia - Karangan Narasi


Ternyata
Aku menghela napas. Teman-teman kuliahku, tanpa kecuali, semua membicarakan hal yang sama. Twitter. Ya, situs sosial berlogo burung biru itu. Mereka tak henti-hentinya membicarakan situs itu setiap hari. Aku heran mengapa mereka tidak merasa bosan. Setahuku, Twitter hanya situs jejaring sosial yang memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dengan mudah. Lalu apa? Yah, aku memang tidak punya akun di Twitter, sehingga aku tidak mengerti. Untuk mencari tahu, aku memutuskan untuk ikut mengobrol dengan beberapa temanku yang asyik bergerombol di meja sebelah.
“Hei, memangnya Twitter seseru itu ya?” tanyaku pada mereka.
Mereka kemudian menolehkan wajah kepadaku dengan wajah seakan baru saja melihat alien.
Aku memutar bola mataku, “Ayolah. Aku kan tidak mengerti karena aku tidak punya Twitter.”
Salah satu temanku menghela napas, “Begini, ya. Twitter itu seperti microblogging atau blog mini untuk kita. Kita bisa terus-terusan meng-update status sekaligus mendapat informasi. Di Twitter, kita bisa tahu topik apa yang sedang marak dibicarakan dan selalu up to date karena komunikasi lewat Twitter sangat cepat menyebar. Kita juga bisa bertemu teman-teman lama maupun baru. Di Twitter kita bisa juga mendapat info penting seperi info lalu lintas, apa yang sedang terjadi di negara ini, berita terbaru, dan banyak lagi. Oh, kita juga bisa kenalan dan jadi dekat dengan public figure seperti artis. Kalau kita meng-follow seseorang, kita juga bisa tau kegiatan sehari-harinya sehingga kita bisa mengenalnya lebih dekat. Seru, kan?”
Teman-temanku yang lain mengangguk mengiyakan. Aku ikut mengangguk. Ternyata begitu. Sekarang aku baru mengerti kenapa mereka sepertinya sangat menyukai Twitter. Seperti situs sosial lainnya, tentunya Twitter membawa dampak positif dalam bersosialisasi dan sepertinya memang situs yang menarik. Mungkin aku bisa mencoba untuk membuat akun di Twitter.
Ketika sampai di rumah, aku menyalakan komputerku untuk kemudian membuka Twitter. Setelah membuat akun dengan mengisi beberapa informasi, aku pun resmi mempunyai akun Twitter. Lalu aku mulai melihat-lihat kesana kemari. Banyak sekali tweets yang ditulis di sini. Ada yang statusnya mengatakan bahwa ia sedang berada di Ancol, ada yang menulis status bahwa mereka sedang kesal, ada yang menggosip. Wow. Seru sekali sepertinya.
Karena merasa tertarik, aku mulai membaur dengan mereka. Dalam waktu singkat, aku merasa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh teman-temanku. Ternyata seru sekali! Aku langsung mempunyai banyak teman, banyak gosip, dan aku merasa senang sekali bisa berbincang dengan banyak orang seperti ini. Seperti yang terjadi pada teman-temanku, aku menjadi pengguna setia Twitter.
Lewat Twitter ini, aku bertemu dengan seorang sahabat. Gadis itu sering curhat padaku. Menceritakan kisah-kisahnya yang menarik. Ketika dia bercerita, aku menanggapi. Begitu pun sebaliknya. Kami menjadi teman yang akrab dalam dunia maya ini walau kami hanya saling mengenal lewat tulisan.
Suatu hari ia mengajakku untuk bertemu secara langsung. Aku ragu karena kami berdua masih sama-sama asing karena kami hanya ngobrol lewat tulisan. Tapi kata-kata manisnya yang mengatakan bahwa dia sangat ingin bertemu denganku yang merupakan sahabatnya, membuatku memutuskan untuk bertemu dengannya di sebuah café yang strategis dari rumah kami.
Pada hari yang sudah dijanjikan, aku menunggu di café yang ditentukan olehnya. Aku sengaja datang 1 jam lebih cepat karena merasa tidak enak kalau terlambat di hari pertama aku bertemu dengan teman asing. Lalu aku melihatnya memasuki pintu dan tersenyum ketika melihatku. Setidaknya kami sudah mengenali wajah masing-masing lewat profile picture Twitter. Awalnya aku sempat kaget karena sepertinya aku mengenal wajahnya, tapi kutepis pikiran itu ketika ia duduk di depanku dan kami mulai berbincang sambil minum kopi.
Tak terasa hari sudah malam. Kami berdua memutuskan untuk pulang. Sebagai pemuda yang baik, aku menawarkan untuk mengantarnya pulang. Tidak baik bagi seorang gadis untuk pulang sendirian di malam hari. Aku pun mengantarnya.
Di tengah perjalanan, ia tiba-tiba memintaku meminggirkan mobil di jalan yang sepi. Saat aku hendak bertanya, ia menyentuh pundakku dan pikiranku terasa kosong. Dia kemudian menyuruhku untuk menyerahkan dompetku dan beberapa benda berharga milikku seperti jam tangan, handphone, dan notebook. Dengan patuh aku melakukan apa yang disuruhnya. Setelah ia mengambil semua yang ia mau, ia menyuruhku keluar dari mobil. Kemudian ia menjentikkan jarinya dan aku baru tersadar. Tapi terlambat. Ia sudah membawa kabur semua yang dia minta tadi beserta mobilku.
Aku terdiam di tempatku berdiri. Dengan bodohnya aku baru menyadari bahwa gadis itu ternyata memang buronan polisi karena lihai merampok dengan menghipnotis. Pantas aku sering melihat wajahnya yang memang terpampang di selebaran-selebaran orang-orang berbahaya. Aku kalut. Apa yang harus kulakukan di jalan yang bahkan tak ada seorang pun yang lewat? Aku menarik napas dan berusaha berpikir tenang.
Tidak ada gunanya menyesal. Lebih baik aku pergi ke jalan besar dan mencari taksi untuk pulang. Aku mencamkan baik-baik pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh dengan mudah terbujuk untuk bertemu orang asing dari situs sosial. 

No comments:

Post a Comment